![]() |
| Peta Index Rawan Bencana di Indonesia Sumber: https://andimanwno.wordpress.com/2021/03/01/persebaran-kawasan-rawan-bencana-di-indonesia/ |
Mitigasi adalah usaha
untuk mengurangi dan / atau meniadakan korban dan kerugian yang mungkin timbul,
maka titik berat perlu diberikan pada tahap sebelum terjadinya bencana, yaitu
terutama kegiatan penjinakan / peredaman atau dikenal dengan istilah Mitigasi.
Mitigasi pada prinsipnya harus dilakukan untuk segala jenis bencana, baik yang
termasuk ke dalam bencana alam (natural disaster) maupun bencana sebagai akibat
dari perbuatan manusia (man-made disaster).
Mitigasi
meliputi segala tindakan yang dapat menjinakkan bahaya, mengurangi kemungkinan
terjadinya bahaya, dan mengurangi daya rusak suatu bahaya yang tidak dapat
dihindarkan. Mitigasi adalah dasar manajemen situasi darurat. Mitigasi dapat
didefinisikan sebagai “aksi yang dapat menjinakkan, mengurangi atau
menghilangkan resiko jangka panjang bahaya bencana alam dan akibatnya terhadap
manusia dan harta-benda”. Mitigasi adalah usaha yang dilakukan oleh segala
pihak terkait pada tingkat negara, masyarakat dan individu.
Mitigasi
yaitu serangkaian upaya untuk mengurangi resiko bencana, baik melalui
pembangunan fisik maupun penyadaran dan peningkatan kemampuan menghadapi
ancaman bencana atau upaya untuk mengurangi resiko bencana, baik secara
struktur atau fisik melalui pembangunan fisik alami dan atau buatan maupun
nonstruktur atau nonfisik melalui peningkatan kemampuan menghadapi ancaman
bahaya.
Mitigasi dan
adaptasi penaggulangan bencana yang mencakup :
§
Siklus Manajemen Bencana
Siklus manajemen bencana adalah memberikan gambaran bagaimana rencana dibuat untuk mengurangi atau mencegah kerugian karena bencana, bagaimana reaksi dilakukan selama dan segera setelah bencana berlangsung dan bagaimana langkah-langkah diambil untuk pemulihan setelah bencana terjadi.
Judul : Langkah - langkah Mitigasi Dan Penanggulangan Bencana
a.
Pembuatan Peta Resiko
Bencana
1) Dibuat
sesuai kebutuhan daerahnya
Pembuatan peta bahaya ini tidak ada yang standart, hal ini disebabkan potensi bencana masing-masing tempat tidak sama. Misalkan di Jogja peta bahaya gunung api lebih diperlukan dibanding Jakarta yang memiliki risiko banjir lebih besar. Dengan demikian tidak dapat dengan mudah membuat standart pembuatan peta ini. Sekali lagi, kondisi Indonesia ini sangat beragam.
Intinya ada tiga tahap pembuatan peta salah satunya yaitu peta dasar (Baseline data). Walaupun disebut baseline, peta ini juga merupakan hasil kajian dari analisa sebelumnya. Memang tidak semua daerah sudah dilengkapi dengan informasi baseline ini. Misal Earthquake Hazard Map. Tentu saja ini memerlukan pemikiran serta analisa awal, seperti misalnya dalam pembuatan peta zonasi gempa.
Pada
penyediaan peta dasar ini memerlukan Landslide Hazard Map atau peta
kerentanan longsoran. Untuk pembuatan peta detil daerah yang landai misal ingin
membuat peta kabupaten yang landai, peta ini mungkin tidak diperlukan, justru
peta banjir lebih penting.
Pada tahap
kedua adalah tahap analisa ancaman kerentanan (Vulnerability Assesment). Disini akan diperlukan analisa dari
populasi atau kependudukan (misal kerapatan), dan Potensi ekonomi yang mungkin
akan terganggu bila terjadi bencana. Selain itu juga diperlukan tinjauan
kapasitas penunjang bila terjadi bencana. Misal jumlah puskesmas, rumah sakit,
jalan raya dsb.
Pada tahap
berikutnya adalah penjajian peta,
ini merupakan bagaimana menyajikan peta-peta yang siap dipakai dan merupakan
hasil dari evaluasi peta-peta sebelumnya. Meliputi Hazard Exposure (kemungkinan
terkena bahaya), serta peta-peta tambahan misal Risiko pada populasi
(penduduk), Risiko pada infra struktur serta risiko pada kerentanan gangguan
potensial ekonomi.
2) Tidak
Harus Seragam dan Standart
Walaupun metode ini dapat dipakai sebagai acuan awal
berpikir, namun kejelian serta pengenalan kondisi kebumian lokal (geologi,
geofisika dan geografi lokal) perlu dipertimbangkan lebih utama. Keberagaman
Indonesia ini perlu dimengerti supaya pendekatan dan kearifan lokal menjadi hal
utama dalam melakukan mitigasi kebencanaan.
b.
Sistem Peringatan Dini
Bencana
Sistem peringatan dini bencana
adalah elemen yang sangat penting dalam
upaya pengurangan risiko bencana agar maka masyarakat
dapat mengetahui peringatan-peringatan dini bencana.
c.
Simulasi Bencana
Simulasi
bencana adalah pelatihan sergap bencana, agar saat terjadi bencana kita telah
bisa dan atau telah sergap terhadap bencana-bencana dan memberikan
manfaat bagi setiap orang agar bisa mengetahui cara mitigasi bencana dan
evakuasi yang sesuai standar.
Contoh
simulasi bencana gempa bumi yang dilakukan oleh mahasiswa dan masyarakat. Dalam
simulasi tersebut, warga menyelamatkan diri dari bencana gempa tektonik yang
misalkan berkekuatan 5,6 SR menggguncang selama 47 detik.
Setelah
berada di titik kumpul evakuasi, warga segera mendirikan pos siaga dan dapur
umum. Tim siaga yang merupakan mahasiswa dengan sigap menolong korban luka,
melakukan pendataan korban dan menginformasikan pada Forum Pengurangsan Risiko
Bencana (FPRB), Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), PMI dan Rumah
Sakit. Beberapa warga yang membawa Tas Tanggap Bencana (TATA) berusaha
mengobati korban luka ringan, tergores dan memar. Ada pula warga yang menandu
korban menggunakan tandu darurat yang terbuat dari sarung dan dua batang bambu.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar